Friday, September 24, 2010

HARAPAN




Well, 15 tahun hidup di dunia membuatku banyak sekali merasakan hal yang tak terduga dan begitu bewarna.Sangat menyentak jiwa, mengaduk perasaan, menghentak kepala, dan menyingkirkan akal sehat. Tidak, ini nggak cumin karena pacar, cinta, suka atau apalah. Ini tentang SEMUA. Keluarga, persahabatan, permusuhan, sosialisasi, dan yang lainnya. Tentang rasanya dicintai, disayangi, dikasihi, diperhatikan, di lindungi, di khianati, dibohongi, ditinggalkan, ditusuk dari belakang, atau yang lainnya. Entah apa yang harus kuhaturkan kepada Allah SWT akan pemberian berjuta perasaan yang dilimpahkan Beliau kepadaku. Apakah rasa syukur akan cinta atau protes akan sakit?


Awalnya menutup diri adalah tindakan defensifku untuk berlindung dari rasa sakit, seperti tidak mau terlalu mempercayai seseorang atau tidak terlalu menyukai seseorang. Kebaikan yang kulakukan kadang tak jarang di salahgunakan, tapi tak jarang juga aku bertemu dengan orang yang begitu mneghargai kebaikanku dengan sungguh-sungguh. Pernahkan, ada yang merasakan atau dengan sengaja menghayati nikamatnya mendapatkan ucapan terima kasih yang tulus dari mulut orang yang sudah kita bantu? Subhanallah, terima kasih.. Kata penuh makna yang di dalamnya terbungkus pahala dari menolong sesama. Namun apa yang harus kulakukan bila ada yag memanfaatkan dengan licik kebaikan yang kulakukan? Atau mengkhianati kepercayaan yang kuberikan? Hurt. Menyakitkan.


Seumur-umur sangat jarang aku merasakan sakit batin yang menusuk-nusuk. Jarang, sangat jarang. Karena tanpa sadar aku membatukan hatiku. Membatukan hatiku yang akhirnya malah membocorkan kelenjar air mataku untuk merebakkan lebih banyak air asin di permukaan pipiku. Ya Allah, haruskah aku percaya atau menyerahkan diri pada sesuatu yang belum pasti? Atau malah seharusnya aku membiarkan semuanya berjalan apa adanya. Nggak melawan, tanpa protes atau tanpa intrupsi? Hm, sakit batin itu sungguh menyiksa, ya, Ya Allah? Air mata jadi sering keluar, kepala sering berdenyut hebat, atau bahkan nafas yang sering tersengal-sengal? Pengen rasanya menghindari rasa sakit itu, karena sungguh menyiksa, Ya Allah  Sakit banget ..


Malam ini, aku iseng memerintahkan otakku untuk berangan- angan memikirkan hal yang janggal. Aku yang sering mengetahui apa yang dulunya tersembunyi, malah sakit hati atau kecewa. Aku bertanya, mana yang lebih baik? Mengetahui tetapi menyakitkan atau tidak tahu tetapi tidak sakit? Menurut pendapatku dan bila aku adalah aku, aku akan memilih tidak tahu dan tidak sakit. Di situ ada dua kata tidak, yang yaah memang bisa di bilang menghindari maslaah atau tidak berani mengambil resiko. Pengecut cilik. Tapi mau gimana lagi, sakit batin itu nggak enak banget. Menyakitkan, menyiksa, menghambat langkah dan pikiran. Membuntukan pikiran akal sehat. Menjadikan emosi dan perasaan sebagai raja, logika dan realita di kesampingkan. Di saat seseorang menderita sakit batin, dia akan menghitung tiap detiknya sebagai penyesalan dan kesedihan . Alhamdulillah bila kau orang yang easy going atau berlangkah ringan, tetapi sungguh sakit batin itu menyiksa banget.


Tapi di sisi lain, thanks buat sahabatku yg sudah menyumbangkan pedapatmu, disitu dia berkata “Tau walaupun itu menyakitkan, karena dengan begitu kita masih bisa punya harapan yang lebih baik setelah tau hal yang menyakitkan itu. Masih ada HARAPAN.”


See? Dia mengatakan ‘HARAPAN’. Sudah lama banget ya kata harapan itu tidak singgah di otakku, harapan, suatu hal yang menjadi angin sejuk di suatu kejerumusan. Harapan, titik terang yang di cari atau dinanti manusia untuk bisa lepas dari masalah. Harapan, Ya Allah masih adakah harapan pada suatu hal yang sudah PARAH sekalipun? Masah ada kah? Harapan, aku sangat berharap akan keajaibannmu Ya Allah, ujianmu sangat berat tapi disetiap firmanmu ada tersirat harapan dan hikmah di balik semua ujian itu. Ya Allah, setelah gelap ada terang, setelah malam ada pagi, tetapi setelah itu ada malam lagi, dan seterusnya tetap seperti itu sampai kau berkehendak mengubahnya.



No comments:

Post a Comment